opini

Pancasila 1 Juni: Menagih Tanggung Jawab Sejarah Kaum Marhaenis

Minggu, 31 Mei 2026 | 21:40 WIB

Baca Juga: Curhatan Pengguna BYD Sealion 7, Viral Keluhkan Shockbreaker Patah dan Rasa Aman yang Hilang

Tantangan gerakan mahasiswa hari ini bukan semata-mata represi atau keterbatasan ruang demokrasi. Tantangan terbesar justru datang dari dalam dirinya sendiri. Banyak organisasi mahasiswa kehilangan tradisi kaderisasi ideologis yang kuat. Diskusi tentang Pancasila, Marhaenisme, nasionalisme, dan keadilan sosial semakin tergeser oleh aktivitas seremonial dan politik elektoral jangka pendek. Mahasiswa semakin akrab dengan algoritma media sosial, tetapi semakin jauh dari tradisi membaca yang dahulu melahirkan generasi-generasi pemikir bangsa.

Padahal dalam sejarah Indonesia, mahasiswa selalu menjadi kekuatan moral yang hadir ketika bangsa menghadapi krisis. Dari pergerakan nasional, perjuangan kemerdekaan, gerakan antiotoritarianisme, hingga Reformasi 1998, mahasiswa memainkan peran penting dalam mengoreksi arah perjalanan negara. Sayangnya, sebagian gerakan mahasiswa saat ini cenderung reaktif terhadap isu sesaat tetapi kurang kuat dalam membangun basis pengetahuan, riset, dan pengorganisasian sosial yang berkelanjutan.

Di sinilah relevansi pemikiran Bung Karno menjadi penting untuk dibaca kembali. Dalam pidato 1 Juni 1945 Bung Karno menegaskan bahwa: "Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politieke-economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial." (Bung Karno, Pidato 1 Juni 1945)

Demokrasi yang dicita-citakan Bung Karno bukan sekadar demokrasi elektoral, melainkan demokrasi yang mampu menghadirkan kesejahteraan rakyat. Demokrasi yang memberi ruang partisipasi sekaligus menjamin keadilan sosial. Bung Karno juga mengingatkan kepada kita semua dalam pidatonya "Kemerdekaan hanyalah suatu jembatan emas. Di seberang jembatan emas itulah kita sempurnakan masyarakat Indonesia." (Bung Karno, Pidato 1 Juni 1945)

Delapan puluh satu tahun setelah kemerdekaan, pertanyaan yang harus dijawab bersama adalah sudah sejauh mana masyarakat adil dan makmur di seberang "jembatan emas" itu berhasil diwujudkan?

Bagi kaum Marhaenis, memperingati Hari Lahir Pancasila bukan sekadar mengenang pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945. Momentum ini merupakan panggilan sejarah untuk memastikan bahwa Pancasila tetap hidup sebagai alat perjuangan rakyat. Ketika pendidikan semakin dikomodifikasi, korupsi masih menggerogoti negara, dan ketimpangan sosial terus berlangsung, maka tugas kaum Marhaenis bukan sekadar merawat ingatan sejarah, melainkan menghadirkan keberpihakan yang nyata kepada masyarakat (siapapun yg tertindas dan ditindas oleh sistem).

Momentum Hari Lahir Pancasila harus menjadi titik kebangkitan baru bagi dunia pendidikan dan gerakan mahasiswa. Kampus harus kembali menjadi ruang pembebasan intelektual, bukan sekadar pabrik ijazah. Mahasiswa harus kembali menjadi kekuatan moral yang berpihak kepada rakyat, bukan sekadar penonton atas ketimpangan yang terjadi di sekitarnya.

Membaca kembali Lahirnya Pancasila, Indonesia Menggugat, Mencapai Indonesia Merdeka, dan Di Bawah Bendera Revolusi bukanlah romantisme sejarah. Itu adalah upaya menemukan kembali keberanian intelektual yang hari ini semakin langka. Keberanian untuk berpikir kritis, mempertanyakan ketidakadilan, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat sebagaimana menjadi cita-cita utama lahirnya Pancasila. Sebab sebagaimana diyakini Bung Karno, Pancasila bukan warisan untuk dipuja, melainkan pedoman perjuangan untuk diwujudkan. Dan selama masih ada ketidakadilan, kemiskinan, serta penindasan dalam berbagai bentuknya, maka perjuangan untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila tidak pernah benar-benar selesai.

Api perjuangan itu tidak padam. Ia hanya menunggu untuk kembali dinyalakan oleh mereka yang masih percaya bahwa Pancasila tidak sedang membutuhkan lebih banyak pidato, seminar, ataupun seremoni. Pancasila membutuhkan keberanian untuk berpihak. Sebab ketidakadilan tidak hanya lahir dari mereka yang berkuasa, tetapi juga dari mereka yang berilmu namun memilih diam. Dan sejarah tidak pernah mencatat mereka yang mengetahui kebenaran tetapi enggan memperjuangkannya. Ketika kampus kehilangan keberpihakan, ketika ilmu kehilangan nurani, dan ketika kaum intelektual lebih sibuk merawat kenyamanan daripada memperjuangkan kebenaran, maka sesungguhnya yang sedang runtuh bukan hanya dunia pendidikan, melainkan masa depan bangsa itu sendiri.

Baca Juga: Syarat Dengan Tradisi dan Budaya yang Kuat, Berikut 7 Negara Tertua Didunia

Sejarah pada akhirnya tidak akan bertanya seberapa tinggi gelar yang kita miliki, seberapa banyak seminar yang pernah kita selenggarakan, atau seberapa panjang jabatan yang pernah kita sandang. Sejarah hanya akan bertanya satu hal ketika ketidakadilan terjadi di depan mata, di pihak manakah kita berdiri?

Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026


Merdeka !!!!!
Salam Pancasila !!!!!

Halaman:

Terkini