opini

Pancasila Dikhianati, Konstitusi Dikencingi: Rebut Kembali Republik dari Militerisme Centeng Oligarki dan Rezim Fasis Prabowo-Gibran!

Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:54 WIB
Dendy, S Ketua DPD GMNI DKI Jakarta

​Nyawa anak 15 tahun yang dirampas secara keji di Medan, serta penindasan struktural di Papua, adalah serangan langsung terhadap nilai kemanusiaan tersebut. Perlakuan hukum yang istimewa terhadap pelaku—tanpa penahanan dan tanpa pemecatan—menunjukkan bahwa watak "Adil dan Beradab" telah digantikan oleh tindakan yang biadab dan diskriminatif. Negara telah gagal total menegakkan prinsip kemanusiaan paling dasar di buminya sendiri.

​3. Kesejahteraan (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia) yang Digadaikan

​Prinsip Kesejahteraan Sosial (Sosio-Demokrasi) Bung Karno dengan tegas menolak kapitalisme dan neo-imperialisme yang menyengsarakan kaum Marhaen. Keadilan sosial berarti tidak boleh ada kemiskinan, perampasan, dan penindasan di dalam bumi Indonesia merdeka.

​Namun, fakta yang ditelanjangi dalam film Pesta Babi placeholder justru menunjukkan sebaliknya: tanah, air, dan kekayaan alam yang seharusnya dikelola untuk kemakmuran rakyat, justru dikavling, digadaikan, dan diserahkan kepada oligarki dengan TNI sebagai benteng pengamannya. Aparat bersenjata yang digaji dari keringat pajak rakyat kini berbalik arah menjadi centeng pemodal, memastikan bahwa "kesejahteraan" hanya mengalir ke kantong para elit, sementara rakyat dibiarkan merana di atas tanah leluhurnya sendiri.

Baca Juga: Syarat Dengan Tradisi dan Budaya yang Kuat, Berikut 7 Negara Tertua Didunia

​Aparat TNI dan penguasa hari ini telah mengalami amnesia sejarah akut terhadap esensi Sumpah Pemuda:

1.​Tanah air yang satu, bukan tanah air yang dikavling dan digadaikan untuk korporasi!
2.​Bangsa yang satu, bangsa yang gandrung akan keadilan, bukan bangsa yang membiarkan anak 15 tahun mati di Medan dan pelakunya bebas berkeliaran tanpa dipecat!

3.​Bahasa yang satu, bahasa yang jujur—bukan narasi humas birokrasi dan peradilan sandiwara yang memutarbalikkan fakta demi mengamankan muka elit berseragam!

​Tugas utama tentara yang setia terhadap rakyat dan negara adalah menjaga pertahanan, keamanan, dan kedaulatan agar tanah air ini tidak digadaikan. Ketakutan institusional terhadap transparansi film Pesta Babi, serta kebalnya pelaku pembunuhan anak sipil dari pemecatan, hanya membuktikan bahwa ada borok sistemik yang sedang berusaha disembunyikan dari mata publik.

​Seruan Aksi: Mari Bung Rebut Kembali!

​Setiap hari kita melangkah, kita justru semakin berjalan mundur menjauhi cita-cita Pancasila 1 Juni, Proklamasi 17 Agustus 1945, dan Preambul UUD NRI 1945. Hukum telah meleleh menjadi alat represi, dan militer telah tersesat jalan menjadi penjaga modal sekaligus pelaku impunitas yang kebal hukum.
​Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi kaum muda, mahasiswa, dan seluruh elemen rakyat melainkan angkat bicara dan bergerak: Mari Bung Rebut Kembali!

​Rebut kembali hukum dari fetis-fetis semu yang menindas, hancurkan tembok impunitas peradilan militer yang mencederai perikemanusiaan, rebut kembali TNI dari cengkeraman tangan kotor oligarki, dan kembalikan kedaulatan serta kesejahteraan penuh ke tangan rakyat Marhaen!.***

Halaman:

Tags

Terkini