Selasa, 2 Juni 2026

Pesan Penggagas Pancasila yang Menjadi Tahanan Politik di Masa Tua

Photo Author
Mochamad Rizki Damanhuri, Pesanrakyat.id
- Senin, 1 Juni 2026 | 09:45 WIB
Tanggal 1 Juni telah merujuk pada pidato Presiden pertama RI, Soekarno, dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945. (Instagram )
Tanggal 1 Juni telah merujuk pada pidato Presiden pertama RI, Soekarno, dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945. (Instagram )

Pesanrakyat.id - Setiap tanggal 1 Juni, Indonesia memperingati Hari Lahirnya prinsip negara yakni Pancasila.

Tanggal 1 Juni telah merujuk pada pidato Presiden pertama RI, Soekarno, dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945.

Dalam pidato bersejarah itu, Soekarno untuk pertama kalinya memperkenalkan istilah "Pancasila" di hadapan para pendiri bangsa dan kemudian disepakati sebagai dasar negara.

Baca Juga: Pancasila 1 Juni: Menagih Tanggung Jawab Sejarah Kaum Marhaenis

Berkat perannya tersebut, Soekarno dikenal sebagai penggagas sekaligus penggali Pancasila.

Soekarno pun berpesan dengan rasa syukur atas hal ini.

"[...] aku berterimakasih syukur ke hadirat Allah SWT bahwa aku dijadikan oleh Tuhan perumus Pancasila; dijadikan Tuhan penggali daripada lima mutiara yang tertanam di dalam buminya rakyat Indonesia ini, yaitu Pancasila," kata Soekarno dalam pidato "Indonesia akan Kuat Selama Kita Tetap Setia Pada Pancasila" (5 Oktober 1966).

Namun, sosok yang berjasa besar dalam lahirnya dasar negara Indonesia itu justru mengalami nasib tragis di masa tua.

Setelah lengser dari kursi kekuasaan, Soekarno hidup terasing, sakit-sakitan, hingga mengalami depresi.

Situasi itu bermula ketika Jenderal Soeharto resmi menggantikan Soekarno sebagai Presiden Indonesia pada 7 Maret 1967.

Baca Juga: Sebagai Orang Tua Harus Bisa Mengajarkan Cara Berwudhu kepada Anaknya, Simak Tata Cara Wudhu dengan Baik dan Benar

Sejak saat itu, pengaruh politik Soekarno perlahan dipangkas.

Soekarno mula-mula diminta meninggalkan Istana Negara dan dipindahkan ke Istana Bogor.

Namun, statusnya sebagai tahanan politik membuat kehidupannya jauh dari kata tenang.

Halaman:

Editor: Mochamad Rizki Damanhuri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X