Dia terus-menerus menjalani interogasi terkait dugaan keterlibatan dalam tragedi Gerakan 30 September.
Akibat merasa tak nyaman tinggal di Istana Bogor, Soekarno akhirnya dipindahkan ke Wisma Yaso pada 1969.
Baca Juga: Dolar AS Semakin Menekuk Rupiah, Ini Pesan untuk Kelas Menengah
Di tempat itulah hari-hari terakhir sang proklamator berlangsung dalam keterasingan.
Sejarawan Peter Kasenda dalam bukunya Hari-hari Terakhir Sukarno (2013) menyebutkan bahwa selama berada di Wisma Yaso, Soekarno dijaga sangat ketat dan dilarang berkomunikasi dengan dunia luar.
Setiap hari, Soekarno hidup sendirian sambil menghadapi tekanan mental akibat interogasi yang tak kunjung berhenti.
Kondisi tersebut membuat kesehatan mental dan fisiknya terus menurun. Dia bahkan disebut kerap berbicara sendiri.
Di saat bersamaan, penyakit ginjal yang lama dideritanya semakin memburuk. Padahal, semasa masih menjabat presiden, Soekarno rutin menjalani pengobatan untuk penyakit tersebut.
Namun, setelah menjadi tahanan politik, akses pengobatan yang memadai tidak lagi diperolehnya.
Satu-satunya dokter yang bisa diaksesnya hanyalah seorang dokter hewan, yang tentu tak bisa memberikan obat terbaik.
Akibatnya, Soekarno harus bergulat setiap hari dengan tekanan mental dan rasa sakit akibat penyakit ginjalnya.
Kondisinya terus menurun hingga akhirnya kritis dan wafat pada 21 Juni 1970.
Meski Soekarno telah meninggal dunia, jejak perannya dalam sejarah Indonesia belum sepenuhnya dipulihkan.
Baca Juga: Curhatan Pengguna BYD Sealion 7, Viral Keluhkan Shockbreaker Patah dan Rasa Aman yang Hilang