![]() |
| @irfanenjo/Direktur Relasi Publik Komunika |
Pesan Rakyat - Biasanya survei itu mengukur persepsi publik, atau menggali jawaban publik terhadap pertanyaan-pertanyaan survei, biasanya bersifat kognitif dan rasional. Tapi ada yang unik apa yang dilakukan oleh Adidaya Institute kemarin Rabu, 19 Oktober 2025.
Bersamaan dengan grand launching, Adidaya Institute yang didirikan oleh Rahman Toha (Amang) Ketua Keluarga Alumni Kammi merilis hasil survei "Public Mood". Mood atau suasana hati diukur, dan diukur secara kolektif dengan metodologi seperti survei persepsi.
Mood publik adalah suasana hati atau perasaan kolektif yang dominan dalam suatu masyarakat atau kelompok pada waktu tertentu. Ini bukan sekadar kumpulan pendapat individu, melainkan emosi bersama yang memengaruhi cara masyarakat merespons peristiwa, kebijakan, atau isu-isu tertentu. Jika survei persepsi cenderung apa yang dipikirkan publik (kognitif & rasional) sedangkan survei public mood cenderung apa yang dirasakan publik secara kolektif (emosional, intuitif, suasana hati).
Karena public mood basisnya adalah emosional dan suasana hati, maka perubahannya akan cepat, dinamis dan jangka pendek. Disamping itu perlu kehati-hatian dalam metode pengukurannya, karena tidak mudah mengkuantifikasi emosi atau suasana hati. Apalagi Adidaya Institute menggunakan skala likert (1-4) dimana ini adalah metodologi untuk mengukur sikap seseorang. Oleh sebab itu yang disodorkan surveyor adalah pernyataan bukan pertanyaan. Jadi responden merespon pernyataan surveyor dengan skala 1-4 bobotnya.
Terlepas dari metodologi, survei public mood ini menarik, dan hasilnya bisa sangat berbeda jauh dengan survei persepsi. Karena mood atau suasana hati sangat bergantung pada situasi saat survei berlangsung. Misalnya temuan 97,5% responden setuju dengan pernyataan; Saya bahagia dalam keluarga; 99,2% setuju dengan pernyataan; Saya tidur nyenyak setiap waktu; dan 88,1% responden setuju dengan pernyataan; Saya makan kenyang setiap waktu. Artinya lebih 80% responden bahagia dalam keluarga, tidur nyenyak dan makan kenyang.
Padahal kanal-kanal informasi publik mempublikasikan tentang rawannya "mental health" generasi sekarang , krisis ekonomi, PHK dimana-mana dan daya beli melemah. Seperti ada paradoks; ada krisis, ada PHK, daya beli berkurang, tetapi mereka tetap bisa bahagia, tidur nyenyak dan makan kenyang. Bagaimana menjelaskan situasi ini?
Masyarakat Indonesia dalam sejarah panjangnya banyak menghadapi ujian-ujian dahsyat sebagai negara-bangsa. Dan agama serta keluarga adalah dua "core-value" yang melingkupi setiap ujian-ujian dahsyat itu.
Dalam teori psikologi humanistik atau teori logotherapy-nya Victor Frankl ada tiga hal yang menbuat orang bisa bertahan menghadapi ujian-ujian dahsyat;
1. Kebebasan Berkehendak (Freedom of Will)
Manusia memiliki kebebasan untuk memilih sikap dan respons mereka terhadap rangkaian kondisi yang membatasi mereka. Kita tidak dikendalikan sepenuhnya oleh insting, dorongan masa lalu, atau lingkungan.
2. Kehendak untuk Berarti (Will to Meaning):
Motivasi utama manusia bukanlah kesenangan (Freud) atau kekuasaan (Adler), tetapi pencarian makna. Frustrasi eksistensial (tidak menemukan makna) adalah sumber utama penderitaan psikologis.
3. Makna Hidup (Meaning of Life):
Makna hidup itu unik dan spesifik bagi setiap individu, dan harus dipenuhi oleh orang itu sendiri pada setiap momen.
Apakah manusia Indonesia sudah menjadi masyarakat yang "meaningful"? Sehingga tetap bahagia dalam situasi kekurangan? Tetap tidur nyenyak walaupun di PHK, dan tetap merasa kenyang walaupun daya beli rendah?
Apakah faktor agama dan keluarga sebagai "core-value" yang menumbuhkan iklim "meaningful" dalam masyarakat Indonesia?
Atau hasil survei ini adalah refleksi "satire" dari kenyataan yang sesungguhnya? Bahwa publik menentukan sikap mereka sendiri, tanpa dipengaruhi situasi yang melingkupinya?
Atau hasil survei ini memberikan optimisme kepada kita sebagai negara-bangsa, bahwa masyarakat Indonesia sehat mentalnya dan selalu menatap optimis masa depan Indonesia? Jika ini yang terjadi, maka menjadi modal utama pemerintahan Prabowo untuk bekerja lebih keras lagi untuk kesejahteraan Indonesia Raya.***
